Perjalanan Karir Bulu Tangkis Peter Gade

Biografi-Peter-Gade-–-Legenda-Bulu-Tangkis-DuniaNama Lengkap : Peter Hoeg Gade
Nama Panggilan : Gade
Profesi : Olahragawan
Tempat Lahir : Aalborg, Denmark
Tanggal Lahir : Selasa, 14 Desember 1976
Zodiac : Sagittarius
Warga Negara : Denmark
Istri : Camilla Hoeg
Anak : Nanna, Alma

Biografi Peter Gade | Legenda Bulu Tangkis Dunia – Memulai karir bulu tangkis sejak usia dini. Ia nyatanya mempu memberikan banyak persembahan kemenangan bagi negaranya. Peter Gade Lahir di Aalborg, Denmark, 14 Desember 1976. Ia juara pertama kali pada tahun 1994, saat itu berhasil memenangkan Junior-Champion in men’s doubles bersama dengan partnernya, Peder Nissen.

Ketrampilannya memegang raket yang ia latih sejak kecil ternyata membuahkan hasil manis. Semenjak terjun ke dunia bulu tangkis, ia seolah tak pernah absen dari gelar juara di suatu pertandingan. Hampir setiap tahun ia berhasil menduduki juara di pertandingan-pertandingan lokal Eropa maupun internasional. Ia mulai terkenal di dunia tepatnya pada tahun 1999 dimana berhasil memenangkan All England Open Badminton Championship dan meraih empat gelar juara European Championship saat ia bermain single.

Pada tahun 1998 ia berhasil menduduki puncak ranking tertinggi hingga tahun 2001. Enam belas Grand Prix berhasil ia raih. Pola permainan yang gesit, gerak kaki yang halus, dan tekanan yang konstan membuat ayah dari dua anak ini dikenal sebagai pemain bulu tangkis yang aktif meski telah berumur 30-an. Tak hanya itu, selama bermain, Gade dikenal sebagai pemain yang kerap kali menipu lawan dengan gerakan tangan dan tembakan yang mengecoh.

Banyak penghargaan yang telah diraih Gade dalam kurun waktu tujuh belas tahun terakhir dan tetap menjadi unggulan hingga kini. Namun, baru-baru ini diberitakan bahwa Gade menegaskan jika dirinya akan segera pensiun dari dunia bulu tangkis usai Olimpiade London yang digelar Juli-Agustus 2012. Sebelumnya, ia sempat menyatakan mundur sesaat setelah Olimpiade Beijing tahun 2008, namun, niat tersebut diurungkan.

Penghargaan

  • 2000 Chinese Taipei Open, Juara 1 Tunggal
  • 2000 Korea Open, Juara 1 Tunggal
  • 1999 World Grand Prix Finals, Juara 1 Tunggal
  • 1999 World Championships, kalah di semifinal
  • 1999 Sudirman Cup, Juara 2 Tunggal
  • 1999 Japan Open, Juara 1 Tunggal
  • 1999 All-England Open, Juara 1 Tunggal
  • 1998 World Grand Prix Finals,Juara 2 Tunggal
  • 1998 Danish Open, Juara 1 Tunggal
  • 1998 Malaysian Open, Juara 1 Tunggal
  • 1998 European Championships, Juara 1 Tunggal
  • 1998 Swiss Open, Juara 1 Tunggal
  • 1998 Japan Open, Juara 1 Tunggal
  • 1997 World Grand Prix Finals, kalah di semifinal
  • 1997 Hong Kong Open, Juara 1 Tunggal
  • 1997 Danish Open, Juara 2 Tunggal
  • 1997 German Open, Juara 1 Tunggal
  • 1997 U.S. Open, Juara 2 Tunggal
  • 1997 Malaysian Open, Juara 2 Tunggal
  • 1997 Kejuaraan Dunia, kalah di perempatfinal
  • 1997 Chinese Taipei Open, Juara 1 Tunggal
  • 1996 Scottish Open, Juara 1 Tunggal
  • 1995 Scottish Open, kalah di semifinal
  • 1994 Kejuaraan Dunia Yunior, Juara 1 Ganda (dengan Peder Nissen)

Perjalanan Karir Bulu Tangkis Susi Susanti

susi susantiNama Lengkap : Lucia Francisca Susi Susanti – Wang Lian Xiang
Julukan : Pengantin Olimpiade | Super Susy
Profesi : Pelatih
Tempat Lahir : Tasikmalaya, Jawa Barat
Tanggal Lahir : Kamis, 11 Februari 1971
Zodiac : Aquarius
Warga Negara : Indonesia
Suami : Alan Budikusuma
Anak : Lourencia Averina, Albertus Edward, Sebastianus Frederick

Biografi Susi Susanti | Legenda Bulu Tangkis Dunia – Lucia Francisca Susi Susanti atau yang lebih dikenal dengan nama Susi Susanti adalah salah satu pebulu tangkis putri terbaik yang pernah dimiliki Indonesia dan dunia. Wanita kelahiran Tasikmalaya ini menyukai olahraga bulu tangkis sejak usia dini. Dukungan penuh dari orangtuanya, ia pun memulai karier bulu tangkis di klub milik pamannya, PB Tunas Tasikmalaya. Setelah berlatih selama 7 tahun  dan berhasil memenangkan kejuaraan bulu tangkis tingkat junior, pada tahun 1985 ketika Susi menginjak kelas 2 SMP ia pindah ke Jakarta untuk lebih serius menggeluti dunia bulu tangkis.

Di Jakarta, ia tinggal di asrama sekolah khusus untuk atlet. Pergaulannya terbatas dengan sesama atlet dan jadwal latihannya pun sangat padat. Enam hari dalam seminggu, Senin sampai Sabtu mulai dari pukul 07.00 hingga pukul 11.00, kemudian dilanjutkan dari pukul 15.00 sampai pukul 19.00. Peraturan tentang makan, jam tidur sampai tentang pakaian sangat ketat. Ia tidak diperbolehkan menggunakan sepatu dengan hak tinggi untuk menghindari kemungkinan cedera kaki. Di hari Minggu, Susi lebih memilih untuk beristirahat karena lelah daripada jalan-jalan ke mall.

Susi dikenal sebagai pemain bulu tangkis yang tenang dan tanpa emosi ketika bertanding meskipun ia telah telah tertinggal jauh dari lawannya. Semangat Susi yang pantang menyerah juga selalu berhasil membuat para pendukungnya yakin bahwa Susi pasti akan berhasil.

Pada awal kariernya di tahun 1989, Susi sudah berhasil menjadi juara di Indonesian Open. Selain itu, berkat kegigihan dan ketekunannya, Susi berhasil turut serta menyumbangkan gelar Piala Sudirman pada tim Indonesia untuk pertama kalinya dan belum pernah terulang sampai saat ini. Ia pun mulai merajai kompetisi bulu tangkis wanita dunia dengan menjuarai All England sebanyak empat kali (1990, 1991, 1993, 1994) dan menjadi Juara Dunia pada tahun 1993.

Puncak karier Susi bisa dibilang terjadi pada tahun 1992 ketika ia menjadi juara tunggal putri cabang bulu tangkis di Olimpiade Barcelona. Susi menjadi peraih emas pertama bagi Indonesia di ajang olimpiade. Uniknya, Alan Budikusuma yang merupakan pacarnya ketika itu, juga berhasil menjadi juara di tunggal putra, sehingga media asing menjuluki mereka sebagai “Pengantin Olimpiade”, sebuah julukan yang terjadi menjadi kenyataan pada 9 Februari 1997.

Susi kembali berhasil meraih medali, kali ini medali perunggu pada Olimpiade 1996 di Atlanta, Amerika Serikat. Selain itu, Susi juga menorehkan prestasi dengan merebut Piala Uber tahun 1994 dan 1996 bersama tim Uber Indonesia. Puluhan gelar seri Grand Prix juga berhasil ia raih sepanjang karirnya.

Susi pensiun di usia 26 tahun setelah ia menikah dengan pemain bulu tangkis tunggal putra, Alan Budikusuma. Ia dan Alan memulai kehidupan dari nol lagi, karena pemerintah dinilai kurang memperhatikan kesejahteraan para mantan atlet. Ia pun mengaku tidak akan mengizinkan ketiga anaknya untuk terjun di dunia bulu tangkis maupun cabang olahraga yang lain, mengingat nasib beberapa mantan atlet yang diabaikan oleh pemerintah.

Salah satu usaha Susi adalah sebuah toko di ITC Mega Grosir Cempaka Mas yang menjual berbagai macam pakaian asal Cina, Hongkong dan Korea, serta sebagian produk lokal. Usaha ini dilakoninya sambil melaksanakan tugas utamanya sebagai ibu dari 3 orang anak, Lourencia Averina, Albertus Edward, dan Sebastianus Frederick. Selain itu, Susi bersama Alan mendirikan Olympic Badminton Hall di Kelapa Gading sebagai gedung pusat pelatihan bulu tangkis. Mereka berdua juga membuat raket dengan merek Astec (Alan-Susi Technology) pada pertengahan tahun 2002.

Kini Susi dan Alan menjalani hari-harinya bersama ketiga anak mereka di rumah yang terletak di Komplek Gading Kirana, Jakarta Utara. Mereka masih rutin bermain bulutangkis sampai saat ini, minimal dua kali seminggu untuk menjaga kondisi. Ia adalah legenda hidup bulu tangkis Indonesia – Ratu bulu tangkis Indonesia

Prestasi Susi Susanti

Tunggal Putri:

  • Medali Emas Olimpiade Barcelona 1992
  • Medali Perunggu Olimpiade Atlanta 1996
  • Medali Perunggu Asian Games 1990, dan 1994
  • Juara World Championship 1993, semifinalis World Championship 1991, 1995
  • Juara All England 1990, 1991, 1993, dan 1994, Finalis All England 1989
  • Juara World Cup 1989 ,1990, 1993, 1994, 1996, 1997
  • Juara World Badminton Grand Prix 1990, 1991, 1992, 1993, 1994 dan 1996
  • Juara Indonesia Open 1989, 1991, 1994, 1995, 1996, dan 1997
  • Juara Malaysia Open 1992,1993, 1994, 1995, dan 1997
  • Juara Japan Open 1991 1992, 1994, dan 1995
  • Juara Korea Open 1995
  • Juara Dutch Open 19931994
  • Juara German Open 1992, 1993 1994
  • Juara Denmark Open 1991 dan 1992
  • Juara Thailand Open 1991, 1992, 1993, dan 1994
  • Juara Swedish Open 1991 1992
  • Juara Vietnam Open 1997
  • Juara China Taipei Open 1991, 1994 dan 1996
  • Juara SEA Games 1987,1989, 1991,1993 dan 1995
  • Juara PON 1993
  • Juara World Championship junior 5 kali 1985(di nomor tunggal, ganda putri, dan ganda campuran) serta 1987(tunggal dan ganda putri)

Beregu Putri:

  • Juara Piala Sudirman 1989 (Tim Indonesia)
  • Juara Piala Uber 1994 dan 1996 (Tim Indonesia)
  • Finalis Piala Sudirman 1991, 1993, 1995 (Tim Indonesia)
  • Finalis Piala Uber 1998 (Tim Indonesia)
  • Finalis Asian Games 1990, 1994 (Tim Indonesia)
  • Semifinalis Piala Uber 1988, 1990, 1992 (Tim Indonesia)
  • Juara SEA Games 1987, 1989, 1991, 1993, 1995 (Tim Indonesia)
  • Juara PON 1993 (Tim Jawa Barat)

Penghargaan:

  • Tanda Kehormatan Republik Indonesia Bintang Jasa Utama, 1992
  • The Badminton Hall of Fame 2004

Perjalanan Karir Bulu Tangkis Rudy Hartono

Rudy Hartono Kurniawan yang lahir dengan nama Nio Hap Liang pada 18 Agustus 1949, adalah anak ketiga dari semblan bersaudara, ayahnya yaitu Zulkarnaen Kurniawan. Dua kakak Rudy, Freddy Harsono dan Diana Veronica juga pemain olahraga bulutangkis kendati baru pada tingkat daerah.

Saudaranya yang lebih muda adalah Jeanne Utami, Eliza Laksmi Dewi, Ferry Harianto, Tjosi Hartanto, dan Hauwtje Hariadi. Beberapa adiknya pun ada yang menjadi pemain di tingkat daerah. Keluarga besar ini tinggal di Jalan Kaliasin 49, sekarang Jalan Basuki Rachmat, kawasan bisnis di Surabaya. Tempat tinggal ini juga menjadi tempat usaha jahit-menjahit. Bisnis mereka yang lain termasuk pemrosesan susu dekat Wanokromo.

Sang ayah, pertama kali bergabung di Persatuan Bulutangkis Oke yang ia dirikan pada 1951. Pada 1964 organisasi ini dibubarkan dan ia pindah ke Surya Naga Group. Di sini, sang ayah diminta melatih pemain-pemain muda. Dalam melatih, Zulkarnaen menerapkan empat standar: kecepatan, olah nafas, konsistensi, dan agresivitas. Oleh karena standar itulah, ia sering melatih para pemain agar mahir juga di bidang olahraga atletik khususnya lari jarak pendek dan jauh, melompat, dan sebagainya.

Masa kecil

Seperti anak-anak lainnya, Rudy kecil juga tertarik mengikuti berbagai macam olahraga di sekolah, khususnya atletik. Saat masih SD, ia suka berenang. SMP, ia suka bermain bola voli dan SMA, ia menjadi pemain sepakbola yang baik. Meski demikian, bulutangkis menjadi minatnya yang paling besar.

Saat usia 9 tahun, Rudy sudah menunjukkan bakatnya pada olahraga ini. Namun ayahnya, Zulkarnaen Kurniawan, baru menyadari bakatnya ini saat Rudy berusia 11 tahun. Ayahnya adalah pemain bulutangkis yang ikut bertanding di masa mudanya.

Sebelum itu Rudy hanya berlatih di jalan raya aspal di depan kantor PLN di Surabaya, yang sebelumnya dikenal dengan Jalan Gemblongan – ditulis oleh Rudy Hartono dalam bukunya Rajawali dengan Jurus Padi (1986). Rudy berlatih hanya pada hari Minggu, dari pagi hari hingga pukul 10 malam. Setelah merasa cukup, Rudy memutuskan utuk mengikuti kompetisi-kompetisi kecil yang ada di sekitar Surabaya yang pada masa itu biasanya hanya diterangi oleh sinar lampu petromax.

Setelah ayahnya menyadari bakat anaknya, maka Rudy kecil mulai dilatih secara sistematik pada Asosiasi Bulu Tangkis Oke dengan pola latihan yang telah ditentukan oleh ayahnya. Sekedar informasi, ayah Rudy juga pernah menjadi pemain bulu tangkis pada masa mudanya. Zulkarnain pernah bermain di kompetisi kelas utama di Surabaya. Zulkarnain pertama kalinya bermain untuk Asosiasi Bulu Tangkis Oke yang dia dirikan sendiri pada tahun 1951. Di asosiasi ini ayah Rudy juga melatih para pemain muda. Program kepelatihannya ditekankan pada empat hal utama yaitu: kecepatan, pengaturan napas yang baik, konsistensi permainan dan sifat agresif dalam menjemput target. Tidak mengherankan banyak program kepelatihannya lebih menekankan pada sisi atletik, seperti lari jarak panjang dan pendek dan juga latihan melompat (high jump).

Ketika Rudy mulai berlatih di Asosiasi yang dimiliki ayah pada saat itulah Rudy merasakan latihan profesional yang sesungguhnya. Pada saat itu asosiasi tempat ayah Rudy melatih hanya mempunyai ruangan latihan di gudang gerbong kereta api di PJKA Karangmenjangan. Dengan kondisi seperti itu Rudy tetap berlatih dengan bersemangat bahkan dia merasa bahwa tempat latihan ayahnya jauh lebih baik dari tempat latihan sebelumnya karena ruangan gedung telah memakai cahaya lampu listrik sehingga dia bisa tetap berlatih dengan maksimal sampai malam hari. Selain itu lapangan yang disediakan juga lebih baik dibanding sebelumnya dan juga ada kantin yang berada di samping gedung latihan.

Awal karier

Setelah beberapa lama bergabung dengan grup ayahnya, akhirnya Rudy memutuskan untuk pindah ke grup bulu tangkis yang lebih besar yaitu Grup Rajawali, grup yang telah melahirkan banyak pemain bulu tangkis dunia. Pada awal dia bergabung dengan grup ini, Rudy merasa sudah menemukan grup terbaik untuk mengembangkan bakat bulu tangkisnya. Akan tetapi setelah berdiskusi dengan ayahnya, Rudy mengakui bahwa jika dia ingin kariernya di bulu tangkis meningkat maka dia harus pindah ke tempat latihan yang lebih baik, oleh sebab itu Rudy memutuskan untuk pindah pada Pusat Pelatihan Thomas Cup pada akhir tahun 1965. Tak lama setelah itu, penampilan Rudy semakin membaik. Bahkan dia turut ambil bagian dalam memenangkan Thomas Cup untuk Indonesia pada tahun 1967. Pada umur 18 tahun, untuk pertama kalinya Rudy memenangkan titel Juara All England dengan mengalahkan Tan Aik Huang dari Malaysia dengan hasil akhir 15-12 dan 15-9. Setelah itu dia terus memenangkan titel ini sampai dengan tahun 1974.

Perolehan medali

Rank Event Date Tempat
World Championships
1 Singles 1980 Jakarta, Indonesia
Thomas Cup
1 Team 1970 Kuala Lumpur, Malaysia
1973 Jakarta, Indonesia
1976 Bangkok, THA
1979 Jakarta, Indonesia
2 1967 Jakarta, Indonesia
1982 London, Inggris

Statistik karier

Final turnamen BWF/IBF

Tunggal – Menang

Tahun Turnamen Lawan di final Skor
1980 World Championships Bendera Indonesia Liem Swie King 15–9, 15–9

Final turnamen internasional

Tunggal – Menang

Tahun Turnamen Lawan di final
1968 All England Open Bendera Malaysia Tan Aik Huang[1]
1969 All England Open Bendera Indonesia Darmadi
1969 U.S. Open Bendera Indonesia Muljadi
1969 Canadian Open
1970 All England Open Bendera Denmark Svend Pri
1971 Denmark Open Bendera Jepang Ippei Kojima
1971 All England Open Bendera Indonesia Muljadi
1971 Canadian Open Bendera Jepang Ippei Kojima
1972 All England Open Bendera Denmark Svend Pri
1972 Denmark Open
1973 All England Open Bendera Indonesia Christian Hadinata
1974 All England Open Bendera Malaysia Punch Gunalan
1974 Denmark Open
1976 All England Open Bendera Indonesia Liem Swie King
Tunggal – Juara II
Tahun Turnamen Lawan di final
1975 All England Open Bendera Denmark Svend Pri
1978 All England Open Bendera Indonesia Liem Swie King

Ganda – Juara II

Tahun Turnament Acara Pasangan Lawan di final
1971 All England MD Bendera Indonesia Indra Gunawan Bendera Malaysia Ng Boon Bee
Bendera Malaysia Punch Gunalan

Daftar prestasi pada kejuaraan All England

  • 1968: Menang – mengalahkan Tan Aik Huang, (Malaysia)
  • 1969: Menang – mengalahkan Darmadi (Indonesia)
  • 1970: Menang – mengalahkan Svend Pri (Denmark)
  • 1971: Menang – mengalahkan Muljadi (Indonesia)
  • 1972: Menang – mengalahkan Svend Pri (Denmark)
  • 1973: Menang – mengalahkan Christian Hadinata (Indonesia)
  • 1974: Menang – mengalahkan Punch Gunalan (Malaysia)
  • 1975: Kalah – dikalahkan Svend Pri (Denmark)
  • 1976: Menang – mengalahkan Liem Swie King (Indonesia)
  • 1977: – Tidak ikut
  • 1978: Kalah – dikalahkan Liem Swie King (Indonesia)

Penghargaan

  • Tanda Kehormatan Republik Indonesia Bintang Jasa Utama

Kegiatan di luar bulu tangkis

  • Pengusaha oli merek Top 1
  • Pemain film “Matinya Seorang Bidadari” (1971) bersama Poppy Dharsono

Perjalanan Karir Liem Swie King – Biografi

biografi liem swie kingNama Lengkap : Liem Swie King
Alias : King Smash
Profesi : Olahragawan
Agama : Kristen
Tempat Lahir : Kudus, Jawa Tengah
Tanggal Lahir : Selasa, 28 Februari 1956
Zodiac : Pisces
Warga Negara : Indonesia

Anak : Alexander King, Stevani King, Michele King

Liem Swie King lahir di Kudus, Jawa Tengah, 28 Februari 1956. King adalah legenda bulu tangkis Indonesia Indonesia asal Kudus – Jawa Tengah. Ia sangat identik dengan Jumping Smash yang hingga kini belum ada satu pun pemain di dunia yang bisa menandinginya. Ia telah puluhan kali mengharumkan nama Indonesia di kancah internasional, dan diberikan predikat abadi di bulu tangkis dunia sebagai “King Smash”.

Tersiar kabar, Liem Swie King sebenarnya bermarga Oei, bukan marga Liem. Pergantian marga seperti ini pada masa zaman Hindia Belanda biasa terjadi. Pada masa itu, seorang anak di bawah usia ketika memasuki wilayah Hindia Belanda (Indonesia sekarang) harus ada orang tua yang menyertainya, bila anak itu tidak beserta orang tua aslinya, maka oleh orang tuanya akan dititipkan kepada “orang tua” yang lain, “orang tua” ini bisa saja bermarga sama atau berbeda dengan aslinya.

Sejak kecil, King sudah bermain bulu tangkis atas dorongan orang tuanya di Kudus. Ia juga masuk ke dalam klub PB Djarum yang telah banyak melahirkan para pemain nasional. King berhasil meraih berbagai prestasi selama 15 tahun berkiprah di bulu tangkis. Pertama kali, King meraih Juara I Yunior se-Jawa Tengah (1972). Pada usia 17 tahun (1973), ia menjuarai Pekan Olahraga Nasional.

Setelah itu, King direkrut masuk pelatnas yang bermarkas di Hall C Senayan. Ia pun meraih Juara Kejurnas 1974 dan 1975. Sementara itu, di kejuaraan internasional, King meraih Juara II All England (1976 & 1977), tiga kali menjadi juara All England (1978, 1979, 1981), peraih medali emas Asian Games di Bangkok 1978, dan tiga medali emas Piala Thomas (1976, 1979, 1984) dari enam kali membela tim Piala Thomas.

Pebulu tangkis asal Kudus ini juga sempat menjadi buah bibir ketika menantang Sang Legendaris Rudy Hartono di final All England tahun 1976, yang waktu itu usianya masih 20 tahun. Setelah itu, Liem Swie King menjadi penerus kejayaan Rudy.

Setelah pensiun dari dunia bulu tangkis pada tahun 1988, King terjun di dunia hotel dan spa milik mertuanya di Jalan Melawai Jakarta Selatan. Setelah itu, ia melebarkan sayap dengan membuka usaha griya pijat kesehatan berkantor di Kompleks Perkantoran Grand Wijaya Centre Jakarta Selatan. Ia juga membuka usaha griya pijat kesehatan Sari Mustika. Kini, King telah membuka griya pijatnya di tiga lokasi, Grand Wijaya Centre, Jalan Fatmawati Jakarta Selatan, dan Kelapa Gading Jakarta Utara.

Pebulu tangkis yang pernah terjun ke dunia film sebagai bintang film Sakura dalam Pelukan ini kini tinggal bersama isteri dan tiga orang anaknya Alexander King, Stephanie King dan Michele Karier King di dunia perfilman berlanjut ketika Nia Zulkarnaen dan Ari Sihasale, pemilik rumah produksi Alenia, menjadikan kehebatan Liem Swie King dalam dunia bulu tangkis Indonesia sebagai inspirasi untuk membuat film tentang bulu tangkis.

Film yang diberi judul “King” memang bukan bercerita tentang kisah kehidupan King, akan tetapi dalam film tersebut King menjadi inspirasi bagi seorang ayah yang kagum pada King, lalu memotivasi putranya untuk bisa menjadi juara seperti King.

Pada bulan Mei 2004, International Badminton Federation (sekarang Badminton World Federation) memberikan penghargaan Hall Of Fame kepada Lim Swie King.

Bagaimana King bisa tertarik pada bisnis perhotelan dan pijat kesehatan? Rupanya sebagai pemain bulu tangkis yang sering menginap di hotel berbintang, King tertarik dengan keindahan penataan hotel dan keramahan para pekerjanya. Begitu pula soal griya pijat. Saat menjadi atlet, King selalu membutuhkan terapi pijat setelah lelah berlatih dan bertanding. Kala itu, ia kerap mengunjungi griya pijat kesehatan di kawasan Mayestik Jakarta Selatan yang penataan ruangannya begitu bagus. Ia pun berpikir bahwa usaha pijat kesehatan (spa) ini sangat prospektif. Kalangan eksekutif dan pengusaha Jakarta yang gila kerja butuh kesegaran fisik dan relaksasi. Maka dia membuka usaha griya pijat kesehatan Sari Mustika.

Hasilnya, selain usahawan dan eksekutif lokal, serta keluarga-keluarga menengah atas Jakarta, banyak ekspatriat menjadi pelanggan griyanya. Ia pun merasa bahagia karena bisa membuktikan griya pijat tidak selalu berkonotasi jelek seperti yang dibayangkan kebanyakan orang.

Bintang film Sakura dalam Pelukan
Pengusaha hotel (pekerjaan kini)
Kisahnya dibuat film pada tahun 2009, yaitu King
Bintang Iklan Indomie bersama Sherina Munaf pada tahun 2012

Karier
– Pebulu tangkis Indonesia
– Pengusaha Hotel dan Spa